Thursday, August 27, 2009

Lasik @ Singlasik

Alhamdulillah, tanggal 24 sama 27 Agustus 2009, kedua belah mata saya udah selesai di Lasik, TKP-nya di Singapore National Eye Center, di klinik Singlasik-nya.

Latar belakang

Saya sudah berkacamata sejak kelas 5 SD, tapi rabun jauhnya sih mungkin jauh sebelum itu, soalnya saya sudah sulit baca tulisan di papan tulis sejak kelas 3, dan lebih seneng kalo catet mencatet di dikte sama guru atau temen, soalnya ga usah liat di papan tulis. Dan ketaun rabun jauh sama bapak saya, itupun dari laporan adik saya (yang kebetulan sekolah bareng sejak kecil), yang bilang kalo si Yuyus biasanya gak bisa baca, kalo disuruh baca tulisan di papan tulis.

Dan langsung minus 2. Dan dimulailah hari-hari berkacamata. Kebetulan bapak saya selain Guru SD, juga jago sepakbola dan volley (legendalah di kampung), tapi kok anaknya ga bisa olahraga. Ya gimana mau maen bola sama volley, beberapa kali frame kacamata patah waktu olahraga (the truth is, I love playing football). Dan berhubung bapak saya gak mampu beli frame baru, terpaksa framenya di sambung sama tukang solder listrik.

Waktu lulus SMP, kepikiran kalo berkacamata nanti bakal menghambat mimpi saya, jadi pilot (yeah, mimpi yang kelihatannya keren waktu itu). Nah, pernah baca artikel kalau mata minus bisa diobati sama yang namanya lasik. Lalu saya paksa bapak saya buat pergi ke Cicendo di Bandung (RS Cicendo itu rumah sakit mata di Bandung), dan waktu di sana di bilang kalau lasik biayanya sekitar 20 juta-an (waktu rupiah 2000-an gitu vs dollar US) dan harus berumur di atas 21 tahun. Yah, kalo bokap sih seneng, bisa ngasi alesan kalo umurku belom cukup (padahal kaget waktu denger biayanya yang nauzubillah).

Bahkan nih, bapak saya sempet maksa saya pergi ke dukun mata segala, mungkin 2 kali ya he…he…

2 minggu lalu pulang kampung, ga disangka-sangka bokap bilang, kalo mau operasi mata, operasi aja, kan udah punya duit sendiri, jangan terlalu mikirin masalah ngirim uang atau apalah.

Lasik

Setelah cari-cari informasi di internet, akhirnya saya mutusin buat ambil di Singlasik (SNEC), dengan dasar kalo itu rumah sakit pemerintah, ya mudah-mudahan kalo ada masalah sama operasinya, bisa gampang ngurusnya.

Berhubung Lasik yang blade (pisau, microkeratome) cukup murah, di bawah 1000 dollar/mata, saya mutusin buat ambil yang itu.

Tetapi setelah Lasik Assessment dari Singlasik, dokter saya (Dr Jod S Mehta) bilang, berhubung minus saya cukup tinggi (kanan -7.50 cyl. 2, kiri -7.00 cyl 3.75) dan astigmatisme (cylinder) tinggi, dia menyarankan buat ngambil yang intralase (blade free, all laser). Tapi saya bilang, dana saya gak cukup. Beruntung, dia nawarin tissue saving gratis buat sebelah mata (nilainya sekitar 200-an dollar), jadi minimal pengeluaran ditekan sedikit.

Ok, akhirnya saya setuju buat ambil intralase dengan tissue saving tanggal 24 dan 27 (sebelah mata satu hari), dengan rincian biaya:
- Assessment = SGD 166
- Mata kanan, Intralase + tissue saving + obat tetes = SGD 1226
- Mata kiri, intralase + tissue saving = SGD 1423

Total biaya = SGD 2815 (dengan kurs IDR 7000/SGD, kira-kira RP 19.705.000,-)

Lebih murah dari Jakarta Eye Center, yang waktu saya tanya, biaya intralase sekitar 21 juta (ga tau itu termasuk apa aja).

Biaya di atas sudah termasuk 4 kali review setelah operasi, dan enhancement kalo ternyata minus masih ada (dalam kurun 2 tahun setelah operasi).

Proses operasi

Proses operasinya sendiri, jauh di luar dugaan saya, ternyata proses operasinya cuma hitungan detik untuk tiap stage;

1. Flap creation
Dimana kornea kita di iris kira-kira setipis rambut (intralase pakai laser, microkeratome pake pisau). Kira-kira 30 detik, ga ada sakit sedikitpun, Cuma ngeri aja.waktu proses di laser, kita disuruh focus ke sinar hijau, ikutin terus kemana arah itu sinar hijau bergerak.

2. Membuang sedikit kornea
Setelah flap creation selesai, kita nunggu sebentar (5 menit) buat pindah ke mesin laser satu lagi, excimer laser. Dimana di sini, kornea kita akan sedikit (bener-bener dikit) dibuang. Prosesini juga mungkin sekitar 30 detik sampai 1 menit. Nanti akan sedikit bau semacam rambut terbakar, dimana sebenernya itu kornea kita yang dibakar sama mesin excimer laser. Dan ga sakit juga.

Setelah operasi, mata kita udah bisa langsung ngelihat dengan jelas, walau agak sedikit berkabut, dan saya sudah bisa pulang ke rumah tanpa kacamata. Magic!.

Untuk mencegah iritasi sama mata kering, mereka ngasi 3 buah tetes mata, yang beda-beda fungsinya.

Mereka mewanti-wanti jangan sampe kita ngucek mata, terus kemasukan air dalam kurun waktu 2 minggu (di kasih catatan sama mereka, ga usah khawatir).

Dan sejauh ini, 3 hari setelah operasi, mata kanan saya udah bener-bener bisa ngeliat jelas, dan mata kiri yang baru di operasi tadi pagi, udah mulai terang.
-----------------------------------------------------------------------
Saya harus banyak berterima kasih sama Pak Budi Setyo atas bantuannya nih.

Referensi untuk lasik di Singapura:
- Singlasik
- Lasik edukasi (ga tau nih, tadi di buka kok ga nyambung)
- Shinagawa
- Lasik Surgery Clinic

(untuk proses operasi yang bener-bener detail, bisa cari di youtube videonya, tapi saya ga rekomen buat liat, soalnya kalo liat di videonya agak ngeri, yang padahal kalo kita yang ngalamin sendiri, ya gak kerasa apa-apa)

4 comments:

Elsa said...

ya ampyuuuuuuuuun MAHALNYA!!!!!

denot said...

thank mas yuyus buat share pengalaman lasiknya...

hidup indo-sing :)

lasiksg said...

Singapore Best Lasik Surgery Guide
http://www.lasiksg.com

mia said...

kalau bole tau dokter yg melakukan operasi nya siapa namanya ya?? baik bener ksh saving hehehe
mau lasik jg nih cm masih bingung mau lasik dimana and dokter yg mana ^^